Ririt Yuliarti Taha

Takkan selamanya kita hidup di bumi ini. Apalah artinya hidup tanpa berniat, beribadah, belajar, berusaha dan bersyukur. JANGAN takut berubah untuk menjadi lebih baik!!!

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Dan malam ini adalah puncak dari segalanya. Aku tidak boleh gagal. Aku akan mulai dengan senyum termanis biar lebih romantis.

“Buat apa pacaran! Buang-buang waktu aja. Kalo mau nikahi gue langsung.” Kalimat ini keluar dari
perempuan yang aku cintai saat memintanya jadi
pacarku.Duh! Inikah suatu penolakan? Jawaban yang benar-benar membuatku tersenyum getir. Tersenyum karena ingin berkelit dari rasa mual dan malu. Mual dengan kebodohan yang telah kulakukan (“nembak” dia). Dan malu karena ditolak. Namun, gimanapun tersenyum plus tertawanya aku, tetap saja rasa itu masih ada. Muaallu! Lagi sekali aku tulis gede-gede di dadaku, MUAL-LU.
“Elo serius mau nikah? Kita kan belum dewasa. Masih semester satu.” Mengada-ada aku bertanya dengan tampang sok serius.
“Se-ri-us siih, hmm…, nggak.” Kalimatnya terbata-bata.
“Serius serius! Nggak nggak! Jangan serius yang nggak nggak!”
Waw! Aku sengaja ngocol, Lis, biar nggak kentara
tampang maluku di hadapanmu. And… you smile too!
“Hahaha…”
Lilis Lisnawati. Ia adalah sosok perempuan anggun,
cantik, pintar, baik, dan berbagai pesona lainnya dia miliki. Suer! aku nggak berlebihan memuji dia karena dia memang layak dipuji. Bukan cuman aku yang ngakuin, tanya aja deh teman-temanku yang lain. // Andro //

Sarah segera beranjak dari kelas Ryki dengan langkah cepat sambil menahan air mata yang hendak jatuh membasahi lantai kelas itu. Sementara itu, suasana kelas menjadi ribut seperti semula. Sarah memandang kaos kakinya yang telah berwarna hitam kucal. Sudah seminggu yang lalu ia tidak mengganti kaos kakinya. Alasannya singkat saja, sudah tiga hari hujan lebat belum juga reda.
Seisi Lab-Kom pada saat itu tidak memperhatikan Sarah yang sedang asyik menukarkan kaos kakinya dengan kaos kaki Ryki. Ryki memang sangat berbeda dengan yang lain, ia adalah sesosok cowok yang sangat memperhatikan kelengkapan alat-alat sekolah, tidak seperti Sarah yang hobinya menghilangkan alat-alat tulis milik teman-teman sekelasnya. Tepatnya jam pelajaran Komputer usai, Ryki tampak uring-uringan mencari kaos kakinya, sementara di sana hanya ada Arfy dan Novia.
“Fy, lo liat kaos kaki gue nggak?” tanya
Ryki kepada Arfy.
“Enggak kok. Bukannya tadi lo selipin di
sepatu lo sendiri?” tanya balik Arfy kepada Ryki, si
pemilik hobi basket itu.
“Makanya itu Fy. Tadi perasaan, gue selipin
di sepatu. Tapi kok, malah kucel kayak gini, ya?”
tanya Ryki yang sedang sangat kebingungan itu.
“Mungkin, ketuker sama kaos kaki yang lain
kali. Terus, kalau memang ada yang nuker, siapa
dong?” Arfy lagi-lagi memberikan pendapatnya.
“Ya sih. Tapinya kan, kita nggak boleh nuduh
orang sembarangan dong.”
“Ya udah deh, terserah lo aja, Ry. Lagian,
daripada kita nyari kaos kaki lo yang nggak ketemu itu, mendingan kita balik ke kelas aja! Siapa tahu, yang lain nemuin,” ungkap Arfy sambil memegang pundaknya Ryki dengan maksud meredakan kekhawatiran Ryki yang tengah memuncak itu. Akhirnya, mereka berdua kembali ke kelas, sambil berusaha meneliti satu persatu kaos kaki siswa-siswi yang lain. Tapi sangat disayangkan, hasilnya nol. Tentu saja, hal tersebut menjadi bahan pembicaraan setiap siswa. Bukan itu saja, setiap siswa saling tuduh-menuduh antara satu dengan yang lainnya.// Arsanaida //

“Win, ke mana aja kamu selama ini?” Kugenggam erat kedua lengannya. Sebenarnya hatiku ingin sekali memeluknya, menumpahkan hasrat kerinduan ini yang telah dua tahun lamanya menyiksa batinku.

Alunan lagu rock “smoke on the water” milik group
band kenamaan, Deep purple, mengalun memenuhi
seantero kamarku. Membuat khayalanku terbang
melayang-layang, membayangkan betapa enak menjadi rocker terkenal seperti mereka. Banyak uang, dikenal orang di sentero dunia dan tentunya disuka banyak cewek-cewek cantik. Ah… kapan khayalan ini dapat menjadi kenyataan. Setiap anak band mungkin khayalannya tidak jauh berbeda dengan khayalanku.
Ya, karena khayalan ini lah, bertahun-tahun aku
tetap bertahan jadi anak band. Aku berpindah-pindah dari satu band ke band lainnya karena tak menemukan kecocokan untuk bersinerji dalam hal musik. Dan kini aku sedang giat-giatnya menciptakan lagu-lagu untuk Patih-band. Bukan itu saja, dalam Patih-Band, kadang-kadang aku mengisi vokal, duet dengan Dedi, vokalis tetap Patih-band. Karena, meski suara Dedi cukup khas dengan pibranya, tapi suaranya tak mampu tinggi. Di bagian nada yang tinggi inilah vokalku masuk.
Aku memilih bergabung dengan group band ini karena para personelnya terlihat begitu berambisi untuk menjadi musisi handal. Semoga saja spirit mereka tetap terjaga sampai kelak!
“Kak…! Kak Ratno…! Ada telpon untuk Kakak!” teriak
Dini, adikku dari lantai bawah, memecahkan
khayalanku. Bergegas aku bangkit dari ranjang dan berjalan cepat keluar kamar. Aku menerima telpon.
“Halo.”
“Huei, No, kenapa HP lo gak diaktivin?” tanya orang
diseberang yang ternyata Arip, drummer Patih- band.
“HP gue rusak, Rip. Kemarin terjatuh saat gue asik
sms-an. Ada apa nih? Tumben-tumbenan pagi-pagi
nelpon.”
“Ada khabar baik nih, No.” Dari suaranya Arip
terdengar bahagia.
“Kabar baik apa dan untuk siapa?” tanyaku penasaran.
 
“Ya, untuk band kita lah. Masa untuk tetangga sebelah” suara Arip terdengar bersemangat.
“Nanti malem Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi menggelar ‘Malam Kesenian’ di Gedung Kesenian. Acara ini akan dimeriahkan berbagai pentas kesenian dari provinsi-provinsi lain. Dalam acara ini pula akan dihadiri para seniman besar dan para pejabat setempat.”
“Terus, terus apa kabar baiknya untuk band kita?” aku masih belum menangkap maksud pembicaraan Arip.
“Aduh… elo itu segitu tulalitnya, ya! Kabar baiknya itu group band kita diundang untuk membuka acara ini!”
“Ah, elo jangan bercanda Rip,” tukasku tak percaya.
“Ye… No… masa elo enggak percaya sih ama gue….”
“Elo berani sumpah?”
“Suer! Deketin mata elo ke gagang telpon, nih gue angkat dua jari gue sebagai tanda sumpah gue,” ujar Arip setengah bercanda.
Baru juga sekitar dua bulan group ini dibentuk, sudah dapat undangan untuk membuka acara kesenian yang tergolong besar ini. Ini pasti karena berita di koran harian lokal tentang group band kami yang meyabet juara satu dalam festival band yang disponsori perusahaan rokok.
“Ini kesempatan untuk kita mensosialisasikan Patih- band di hadapan para seniman besar negeri ini, sekalian ajang untuk kita unjuk kebolehan lagu-lagu ciptaan kita!” aku jadi terbawa semangat.
“Gue juga berfikir seperti itu No. Udah deh baiknya elo datang ke base camp. Kita latihan. Tejo, Dedi, dan Tatang udah gue hubungi.”
“Oke gue mandi dulu Rip.” Kututup sambungan telponku. Kemudian aku segera ke kamar untuk mengambil handuk. Kabar baik ini ternyata dapat mengalahkan rasa malasku untuk mandi pagi.
Para penonton yang terdiri dari para undangan dan umum, duduk menempati kursi-kursi yang telah disediakan panitia. Riuh tepuk tangan berkumandang di akhir lagu pertama yang kami bawakan. Dalam lagu berirama rock ini, aku duet vokal dengan Dedi. // RG.KK//

Lencana Facebook Radio Youngsters 105 FM Kendari

About Me

Foto saya
Nama saya Ririt Yuliarti Taha. Anak dari bapak Drs. H. Taha Taora dan ibu Dra. Hj. Rosmawati Ibrahim, SST, MS. Saya anak ketiga dari 3 bersaudara. Mempunyai kakak pertama seorang cewek dan kakak kedua seorang cowok. Pendidikan mulai dari TK Wulele Sanggula Kendari, SDN 39 Kendari, SMPN 1 Kendari, SMAN 1 Kendari dan sekarang terdaftar menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo Kendari. Dari kecil sampai sekarang selalu dikendari, hal ini sebabkan karena orang tua yang tak ingin saya jauh dari mereka. Ibu selalu mengajarkan saya untuk mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain, sedangkan bapak membuat saya selalu bergantung kepadanya. Tapi itu semua mengajarkan saya bisa mengambil hal positif dari setiap yang saya jalani. FALSAFAH HIDUP Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta(Khalil Gibran)

Pengikut