Ririt Yuliarti Taha

Takkan selamanya kita hidup di bumi ini. Apalah artinya hidup tanpa berniat, beribadah, belajar, berusaha dan bersyukur. JANGAN takut berubah untuk menjadi lebih baik!!!

wkwkwkkwkwk................

hari ini sungguh sangat melelahkan, khususnya buat siswa-siswi kelas XII IA 1 SMANSA (DISKET). ehhmmm......gimana ngak mau lelah, tadi habis-habisan berfoto, bernyanyi, teriak-teriak........pokoknya serrruuu abis nich hari.

apa lagi bareng wali kelas (mama nur)....super gila. tadi d'suruh nyanyi lagu himne guru...tapi sampai beberapa kali d'ulang terus, habis pada kacau semua suaranya.....maklum kelas XII IA 1 kan pada tukang lawak semua, biar dgn wali kelasnya.

wkwkkwkwkwkw............

habis nyanyi lagu himne guru....d'sambung lagi dengan foto bareng. bbbrrrrrrrrrrr.....ini dia yang paling kacau balau, semuax pada susah diaturnya minta diampun deh.

Bu guru aja teriak-teriak setengah mati( seperti lagux ada band)....wkwkkwkwkw. untung ada kesadarna masing-masing. jadi tadai berfotonya bergiliran. yang pertama berfoto cowok-cowoknya ft bu guru. Kedua cewek-ceweknya.

Tapi......lantaran tuh cowok2 semua pada narziz berfoto, maunya juga ikut berfoto lagi. bu guru tambah mau gila tuh.............wkkwkwkwkwk. apapun yang terjadi tetap berfoto.

jadi susah hitungnya tadi ada berapa kamera yach yang foto kami???? tuh lantaran banyaknya jadi bingung mau lihat kamera yang manna.

Paling lucu bu guru.............dia dah mati kepanasan minta ampun. wkwkkwkwkwk (tapi kita tetap paksa berfoto)

sampai2 ma nur bilang : Rit jangan lupa bawa hendikemmu yaq, besok qita befoto depan tangga sekolah. wkwkwkkw apa coba berfoto pake hendikemm......mending pake kamera digital kaleee bu guru !!!!!!!!!!!!!

Sumpah nich hari penuh cerita sangat.......................

Ranah budaya (cultural domain) adalah  istilah yang  sering  digunakan oleh para antropolog untuk menggambarkan sebuah wilayah yang menjadi basis historio-cultural kelompok etnik tertentu. Dengan kata lain, seperti kata Sairin, ranah budaya adalah wilayah yang secara cultural dipandang sebagai milik dari masyarakat pendukung kebudayaan itu. Istilah ini banyak dipakai dalam pembicaraan-pembicaraan diseputar prilaku dan persepsi penduduk asli dan penduduk migran terhadap wilayah tertentu.
Dalam kaitan pengertian itu, dan terlepas dari perdebatan-perdebatan para ahli di seputar batas-batas wilayah kekuasaan formal orang Tolaki di masa lalu,  dalam perspektif kontemporer orang Tolaki sendiri, wilayah yang diklaim sebagai ranah budaya Tolaki pada prinsipnya mencakup bekas wilayah kerajaan Konawe dan kerajaan Mekongga, dengan batas-batas wilayah : sebelah utara berbatasan dengan wilayah Bungku Selatan pada kampung-kampung Molore, Lambatu dan Lampesua hingga danau Matana, sebelah timur berbatasan dengan laut Banda dan selat Tiworo, sebelah Selatan berbatasan dengan gunung Rompu-Rompu, Toari dan Teluk Bone, dan sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerajaan Luwu pada kampung-kampung Patikala, Boebunta dan Matana.
Hamparan territorial yang berada dalam lingkup wilayah dengan batas-batas geografik di atas, atau lebih dikenal dengan istilah bekas wilayah kerajaan Konawe dan Mekongga, saat ini secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten Konawe (termasuk kabupaten persiapan Konawe Utara dan pulau Wawonii), Kota Kendari, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Kolaka dan Kabupaten Kolaka Utara.
Disadari oleh penulis bahwa terkait dengan klaim ranah budaya Tolaki di atas, terdapat perbedaan persepsi di seputar  beberapa wilayah yang secara khusus – karena faktor peristiwa kesejarahan tertentu –  dikenal pernah menjadi basis intervensi kepentingan politik kerajaan lain, atau pernah menerima pengaruh intervensi geo-politik dari pemerintah Kolonial Belanda, seperti pada beberapa wilayah yang saat ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Kolaka Utara dan Kabupaten Konawe bagian Utara.
Di Kabupaten Kolaka Utara, beberapa wilayah yang dikenal dengan istilah Patampanua, pernah diinvasi dan diduduki oleh tentara kerajaan Luwu sewaktu membantu pemberontakan Kerajaan Mekongga (dimasa Lombo-Lombo) yang hendak memisahkan diri dari hegemoni Kerajaan Konawe yang berkedudukan di Unaaha. Namun, upaya pemberontakan dan pendudukan tentara Luwu tersebut berhasil dipatahkan oleh Taridala (Panglima Angkatan Darat Kerajaan Konawe bergelar Kapita Anamolepo), yang bersama dengan 7,000 pasukan,  berhasil merebut kembali dan mengembalikan wilayah Patampanua ke-pangkuan kerajaan Konawe.
Dalam versi serupa diceritakan bahwa pengaruh kerajaan Luwu di wilayah Mekongga telah hadir sejak abad XVI, yakni pada masa pemerintahan Mokole Lamba-Lambasa. Pada masa ini, kerajaan Luwu menempatkan seorang dutanya bergelar Mincara Ngapa di wilayah Mekongga bagian utara (daerah KondeEha) dengan tujuan untuk mempererat hubungan politik antara dua kerajaan. 
Kuatnya pengaruh Luwu di wilayah tersebut (Kolaka Utara) juga terkait dengan hikayat klasik yang menceritakan bahwa raja-raja yang pemerintah di kerajaan Mekongga berasal dari dinasti Larumpalagi yang termasuk dalam keluarga Sawerigading. Selain itu, fakta sejarah  juga menceritakan bahwa sebelum terbitnya  PP Nomor 34 Tahun 1952 tentang pembentukan Kabupaten Sulawesi Tenggara, wilayah Kolaka pernah menjadi bagian administratif dari wilayah onder afdeling Luwu, Sulawesi Selatan.
Meski demikian, terlepas dari beberapa peristiwa sejarah di atas, wilayah kerajaan Mekongga (Kolaka) itu sendiri pada awalnya merupakan bagian integral dari wilayah kekuasaan formal kerajaan Konawe.  Kedekatan Mekongga dengan Luwu justru berlangsung pada saat kerajaan Mekongga berusaha memisahkan diri dari kekuasaan kerajaan Mekongga. Dengan kata lain, pada saat itu, kerajaan Mekongga sedang mencari simpati serta dukungan politik dan militer dari kerajaan Luwu untuk dapat melawan kerajaan Konawe, oleh sebab kerajaan Konawe pada saat yang sama diketahui telah menjalin hubungan militer dengan kerajaan Bone.
Terkait dengan ihwal pertikaian Konawe – Mekongga di atas, dalam tulisannya tentang Haluoleo, Zahari Mulku (1980 : 70)  menceritakan bahwa setelah Haluoleo berhasil mengalahkan Banggai, dalam perjalanan pulang, Haluoleo singgah di Konawe yang pada saat itu sedang terjadi pertikaian dengan Mekongga. Melihat hal itu, Haluoleo turun tangan menyelesaikan pertikaian tersebut yang akhirnya dimenangkan oleh Konawe.
Dari riwayat singkat di atas terlihat bahwa wilayah Kolaka (termasuk Kabupaten Kolaka Utara saat ini) yang kemudian dikenal sebagai bekas wilayah kerajaan Mekongga itu, sebelum masuknya pengaruh Luwu, merupakan bagian dari kerajaan Konawe. Dalam hal kerajaan Mekongga terlepas dari hegemoni geo-politik kerajaan Konawe sekalipun pun, wilayah Kolaka tersebut, secara historis, tetap dapat dikategorikan sebagai bagian dari ranah Budaya Tolaki, oleh sebab hegemoni geo-politik dari kedua kerajaan itu (Konawe dan Mekongga), tetap identik dengan klaim pemilikan wilayah geografik Kolaka oleh kelompok etnik Tolaki yang secara kelembagaan diwakili oleh pihak kerajaan (Konawe dan Mekongga).
Terkait dengan bias-bias perbedaan persepsi tentang ranah budaya Tolaki di daerah Kabupaten Konawe bagian Utara, Abdurrauf Tarimana – seperti dituturkan kembali oleh Muslimin Su’ud, menceritakan bahwa wilayah Asera (termasuk Wiwirano, Routa dan sekitarnya – penulis) pernah diinvasi dan berusaha direbut oleh tentara Bungku Selatan dari tangan kerajaan Konawe (kerajaan Bungku Selatan pada saat itu merupakan wilayah fazal dari kerajaan Ternate). Atas perintah Tebawo (Raja Konawe ke XXXIII), panglima Taridala ditugaskan untuk memadamkan perlawanan pasukan Bungku Selatan dan akhirnya berhasil merebut kembali wilayah Asera. Namun, segera setelah wilayah ini berhasil direbut kembali,  utusan dari kerajaan Ternate datang menemui Raja Tebawo untuk meminta kembali sebagian wilayah Asera yang telah ditaklukkan oleh Taridala, yakni wilayah Salabangka dan sekitarnya. Atas perkenaan sepihak Raja Tebawo, sebagian wilayah Asera itu pun, kembali diserahkan kepada kerajaan Bungku Selatan.
Peristiwa penyerahan kembali wilayah tersebut memicu perselisihan antara Raja Tebawo dan panglima Taridala.  Akibatnya, bersama dengan 400 orang pasukan, Taridala mengasingkan diri secara diam-diam ke wilayah Sulawesi bagian tengah, untuk kemudian mendirikan kerajaan baru bernama kerajaan Kulawi.  Di Sulawesi Tengah, pendiri kerajaan Kulawi (yakni Taridala) lebih dikenal dengan nama Tadulako (artinya, panglima yang sedang bepergian).
Dari peristiwa sejarah di atas, penulis berpendapat bahwa meskipun pernah berstatus sebagai daerah pendudukan kerajaan Bungku Selatan, wilayah Asera dan sekitarnya tetap termasuk dalam kategori ranah budaya Tolaki, oleh karena wilayah tersebut sejak awal merupakan bagian integral dari wilayah kekuasaan formal kerajaan Konawe.

Beberapa Kategori Kultural

Secara turun temurun, ranah budaya Tolaki terbagi atas beberapa kategori atau sub wilayah kultural, yakni – seperti yang dikenal dengan istilah-istilah -  kampung halaman (o kambo), kampung lain (suere nggambo),  tanah Konawe (wuta i Konawe), tanah Mekongga (wuta i Mekongga), dan wilayah ando’olo (i ando’olo). Kelima kategori ini merupakan bagian integral dari satu kesatuan wilayah ‘tanah Tolaki’ yang dikenal dengan istilah andolaki atau wuta ndolaki. Wilayah yang berada di luar dari keempat kategori atau sub wilayah kultral itu disebut dengan istilah suere wonua (negeri lain).
Kampung halaman (o kambo) adalah tempat bermukim dan tempat lahir yang biasa juga dianggap sebagai tempat asal para leluhur.  Untuk kondisi sekarang, tempat atau wilayah ‘o kambo’ dikenal dengan nama sebuah desa atau nama gugusan desa-desa tertentu yang masih berada dalam lingkaran asal muasal leluhur yang sama. Misalnya, warga Tolaki yang saat ini bermukim di desa Ameroro, Rawua, Anggopiu, Amaroa,  Tamesandi dan desa-desa di sepanjang daerah aliran sungai Ameroro, seperti desa Ulu Ameroro, Singgere, Ambapa, Wakobu dan Tamosi, serta yang bermukim di desa Tawarotebota, Uepai, Asaki, Momea, Konawe, Tudaone dan Hudoa (Bungguosu), biasa disebut dengan orang-orang Uepai (to Uepai), demikian pula warga Tolaki yang bermukim di desa Kapoiala, Sambara Asi, Labotoy, Tombawatu dan Muara Sampara, biasanya hanya dikenal dengan sebutan identitas kelompok sebagai orang-orang Kapoiala (sebagai desa induk tempat asal muasal leluhur).
Di mata orang Tolaki tradisional,  o kambo dianggap sebagai tanah tumpah darah dengan sistem sosial yang relatif homogen serta dengan tingkat solidaritas sosial yang tinggi.  Seluruh warga yang berada diwilayah ini berada dalam ikatan genealogis yang dekat, yakni seluruhnya merupakan anggota rumpun keluarga besar tertentu.  Warga yang masih sedang berada (berdiam) di wilayah o kambo disebut istilah ‘me anggambo’, dan penguhuni aslinya disebut dengan istilah “mbu kambo”. Warga yang bertandang dan bermukim di kampung lain disebut dengan istilah ‘lako mesuere nggambo’, atau yang sedang merantau ke daerah lain disebut dengan istilah ‘lako mesuere wonua’. Warga dari luar yang datang bertandang atau bermukim di wilayah o kambo, sering disebut dengan istilah ‘toono ari suere nggambo’ (pendatang dari kampung lain/untuk sesama warga Tolaki) atau toono leu (pendatang dari daerah lain, baik untuk sesama warga Tolaki maupun untuk warga migran).
Sentimen nama kampung asal sangat terasa dalam mobilitas horizontal orang Tolaki. Hal ini terbukti dari banyaknya nama kampung asal (desa tua) yang dibawa serta untuk dilekatkan menjadi nama desa pada wilayah baru yang dihuni. Misalnya, warga Tolaki dari kampung asal Latoma dan Ambekairi, ketika pindah dan bermukim di wilayah kota Unaaha, mereka membentuk desa (sekarang kelurahan) dengan nama yang sama dengan nama kampung asalnya, yakni kelurahan Latoma dan kelurahan Ambekairi. Demikian pula untuk berbagai unit desa, terutama di Kabupaten Konawe, hingga saat ini, masih mengambil nomenklatur nama desa tua darimana mayoritas warga Tolaki setempat berasal.
Persepsi atau image warga Tolaki terhadap kampung asalnya (kambo) relatif sangat positif.  Hal ini tergambar dari ungkapan-ungkapan klasik yang berbunyi “mano ke’aro’a ano mesawuako marasai, asala la me’anggambo, meamboipo ano amba toro kawasa ine suere kambo/wonua, Artinya, hidup berselimut kelalaparan dan kemiskinan di negeri sendiri, lebih baik dari pada hidup bergelimang kekayaan di kampung atau negeri orang. Sebaliknya, semakin jauh sebuah wilayah dari lingkaran o kambo, image warga Tolaki pun semakin ‘negatif’. Hal ini tergambar dari pemakaian istilah suere sonua (negeri lain) untuk daerah-daerah di tanah air yang berada di luar ranah budaya Tolaki.
Dalam komunikasi warga Tolaki sehari-hari, istilah suere wonua yang paling populer sering diidentifikasi dengan istilah ‘wuta bugisi’ (tanah bugis) atau ‘i manggasa’, yakni berbagai daerah di Sulawesi Selatan, serta  wuta dawa’ (tanah jawa), yakni berbagai daerah di pulau Jawa.  Kecuali dalam beberapa tahun terakhir, daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara dan yang lainnya, kurang akrab dalam komunikasi warga Tolaki sehari-hari, khususnya ketika menyinggung daerah tujuan bepergian untuk waktu yang cukup lama.
Suere wonua, dalam persepsi rata-rata orang Tolaki, sering dicitrakan sebagai wilayah milik orang lain (toono suere), yang karenanya dianggap kurang menjanjikan suasana kehidupan yang layak atau milliu (lingkungan) sosial yang baik, seperti suasana kekeluargaan atau kekerabatan sosial yang utuh. Selain itu, suere wonua juga sering digambarkan sebagai daerah yang keras, sumpek dan tidak bersahabat. Image negatif seperti ini yang lalu menyebabkan kebanyakan warga Tolaki enggan meninggalkan kampung halamannya atau enggan merantau ke negeri seberang untuk  membangun kehidupan sosial yang baru.

>>Santai Saja<<
Mungkin kau kecewa
Semua datang yang tak kau minta
Namun ini semua kenyataan kita

Waktu kita lelah dalam menjalani
Semua macam kisah dalam hidup ini
Kadang kita lemah hanya mampu untuk pasrah
Saat kenyataan ga sejalan dengan harapan
Saat keyakinan hilang dalam kepahitan
Tetaplah tabah setidaknya kau mencoba
Menjadi lebih baik dalam jalani hidup ini
Janganlah resah tiada waktu menjawabnya

Kau harus bersabar
Semua indah pada waktunya

Santai saja kawan ..
Ikuti kata hati biarkan sedihmu berlalu
Kau pasti bisa ..
Menjadi suatu hari dengan pagi yang baru
Tenang saja kawan ..
Hadapilah semua ..

Kau harus bersabar ..
Semua indah pada waktunya ..
 
 
Nich Puisi dari teman SMPku dulu yang notabene orangx agak lalo2....hehehhehe. Tapi yang herannya skrg, kata tmn2 SMA'x dia jadi berubah, sering marah ngak jelas.  (why with him???)

Lanjut cerita, yang paling menakutkan dari perubahan tmnku ini sering teriak ngak jelas........(iiihhh takutku). Sampai2 waktu lagi karaokean bertiga, tiba2 dia teriak sendiri seperti orang yang lagi stres berat.................untung ngak sampai banting2 dirinya d'lantai. wkwkwkwkkwkw

Tapi senang deh liat dia segembira itu........serasa dia lebih nyaman bersama diriku and devi(sahabat smpq). 

Sesungguhnya z berharap dia selalu gembira teruz and no cry again. AMIN

Nich Foto waktu selasai karaokean
with: Devi & Fifi (tmnq yg lalo itu) hehehhe

15 november 2009

berbagi catatan lagi cuyyy...............

kembali teringat taon kemarin (2009)......yah banyak kisahlah d'taon kemarin yang kemungkinan besar sulit tuk d'lupakan. weleh-weleh........

yang sempat teringat peristiwa kejadian indikasi dan gejala yang terjadi d' tanggal 15 november 2009. (wkwkwkkwkw.............ririt lebay asoiii cuii). konon ceritanya begini :

tanggal itu bertepatan dengan hari minggu, yang dimana waktu itu seluruh siswa-siswi se-kota kendari mengikuti Try Out Kedokteran Unhalu di Auditorium Mokodompit Unhalu  kerjasama Primagama. (ciiiyyeee....calon dokter atuh, wkwkwkkwkw. ta Aminkan deh. AMIN AMIN)

Lanjut cerita: waktu ntu yang ikut Try Out dari anak2 LG ada bebeapa orang, diantaranya: diriku, inda, titin, venny, and titi. weitzz....kurang 4 orang yaq. dasar anak yang malazz tuh 4 orang. hehehehehe (lagi nyuci sedunia mungkin). teruz dari anak2 rajaka yang ikut diantaranya ada: okra candra men and yayan zi, beehhhh lebih parah lagi anak rajaka yang ikut cuma 2 orang, kentara sekali pemalazx minta d'ampiunnnn kunaee gara !!!!

Next, setelah selesai Try Outnya......Nak LG vz Rajaka saling kontek-kontekan (buat rencana lanjut ke pantai). 1 persatu dari kami keluar dari ruangan dengan terburu-buru ( dengan muka mati rasa dan d'pertebal) wkwkwkwkwkk. D'pintu sempat d'tahan ama panitianya, untung aja ada mantan kakak kelas dulu, kita2 pada minta izin dengan alazan ada acara kelaz. Akhirnya d'percaya dehhh.........(kaburrrrrr sudahhhhhhh).

setelah terbebas dari ruangan itu, akhinya kami ber-7 menyusun suatu rencana dan strategi untuk kegiatan selanjutnya. Dan hasil keputusannya kita semua pada berkumpul d'rumah achie untuk berangkat sama2 ke pantai, yang kebetulan rumah achie dibelakang sekolah.

Singkat cerita, semua dah berkumpul d'tempat yang d'rencanakan. weeittzzzz personil dari 7 orang bertambah banyak cuuiiiii...............


weleh-weleh.........personil lengkap sudah, ternayata ad apersonil yang bertambah banyak sekali ( Ikannya yayan zi 1 termoz...wkwkwkkwkw). kayaknya mantaf tuhhhh........secara 2 cara bakar-bakar ikan lagikan. Untung udah d'bawa tukang pembakar ikan yang handal ( Bang Ganjar Kumis & spup'x Yayan zi, tapi lupa namax) hehehhehehehe.

Lanjut lagi (sudah tiba TKP yang d'tuju)
 
Weeiittzzzzzz..................kerennnn gila foto2 para selebriti (calon ji)
Liat ngak cowok berkalung sarung bali (Yayan zi, kedua dari kiri)
Untungnya dia tak pake rok (wkwkkwkwk, nanti mirip revalina s.temat)




Kebiaasan yang paling melekat dalam tubuh Para Nyi LG Vz Rajaka adalah:




1. Kebiasaan berfoto dan selalu numpang eksiz....................tapi liat ngak, ada yang beda dari foto ini. Perazaan rata2 cewek semua deh, tapi kok ada wanita jadi-jadian sih ?????? 
(itulah yayan zi, dimana ada kamera pazti ada dia).


2. Mau Liad lagi ngak?????? (Liad aja yach)


 


3. Nah nich foto yang paling terkeren d'pantai Toronipa, liat aja tuh, seperti bintang2 cover cuiii.
(wkwkwkwkwkkw, ala-ala narziz cuiii)

Kayak na.....cukup sudah dulu cerita peristiwa kejadian atau apalah namanya.

bey bey bey bey




Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih
Suci lahir dan di dalam batin
Tegaklah ke dalam sebelum bicara
Singkirkan debu yang masih melekat 2x

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya 2x

Anak menjerit-jerit, asap panas membakar
Lahar dan badai menyapu bersih
Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat
Bahwa kita mesti banyak berbenah

Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista... oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang telah kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya

Kita mesti berjuang memerangi diri
Bercermin dan banyaklah bercermin
Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini
Berusahalah agar Dia tersenyum... oh
Berubahlah agar Dia tersenyum

weeittz........pernah liat pohon ini ngak secara langsung???? rhit juga loem pernah liat tuh. nich gambar rhit dapat waktu lagi cari tugas seni budaya, tiba2 gambar ini yang muncul.....ckckckckkckckck. untung bukan ini yang d'setor. mau liat gambar yang lainnya lagi???????



















nich dia gambar kedua.........bentuknya seperti bom terus ada peluru-pelurunya........ehehhehehehe. sungguh annehh.

















nah..................nich gambar ketiga...............pada pegang pistol kedua tangannya. ckkckckc, mau tembak sapa coba?????

Lanjut lagi nichh......................

weittzzz....pulang dari skula sumpah hari ini panaz sangad, mana lampu padam lagi. betul2 dah nich PLN (perusahaan Lilin) sdh tak berjadwal pamadaman'x. Tapi ngomong2 koq rumahku sepi yachh, perazaan nch jadwal tukang cuci datang k'rumah?????? (bertanya dalam hati, eehhmmmm seperti judul lagu sapa tuhh????) 

eehhmmmm..............

lupakanlah tukang cuci yang tak datang........kita lanjut dengan cerita baru hari ini, tepatnya pas pulang sekolah. hehehheheheh, apa coba.

tadikan lagi duduk d'tangga skula sambil nungguin para nyi LG yang anak2 XII IA plus......(biasalah kitakan selalu pulang bersama-sama, walaupun beda kelas kita tetap 1 jua)...wkwkkwkwkwk.sewaktu lagi duduk nd cerita2 bareng nyi inda, nyi titin, nyi venny beserta si okra (pacarnya nyi ethu) tiba2 lewat 2 orang anak IA plus...sudah diriku bertanya ma mereka, " sudah plgkah kelasmu???", mereka jawab, "sudah". z tanya lagi, "mana mereka yang lain???" dia jawab lagi, " nda tau mich, ada mich mungkin d'belakang".

2 orang itu berlalu......muncullah para nyi LG dari kejauhan yang jaraknya sekitar berapa dichh?????? achhhh taulah berapa jaraknya, yang penting begitu mich.

para nyi LG mulai menghampiri kami d'tangga...tiba2 kita semua lihat muka mereka kok pada nangis, ada yang bengkak matanya !!!!!!!!!!!!!!!

eeehhhmmmmm...........ternyata mereka habis menyelesaikan masalah kelasnya, yang dari dulu terpendam. hahahhahahahaha. sampai segitunya yakk. ternyata yang mereka tangiskan tuhhhh.............karna nama2 perkumpulan kita2 ( Laugh Girl's = LG ) d'bawa2 kedalam masalah kelas mereka...........

iiihhhhhh summpaahhhhh.........hampiirrrrr diriku syoockkkkk dengar nama perkumpulan kita d'bawa2. untung nyi Achie langsung ambil tindakan cepat dan menjelaskan kepada diriku (secara dirikukan cepat emosional) hahahha....

Si nyi achi jelaskan ma kita semua : katanya Nama LG nd D'jamoes haruzz d'bubarkan, karena itu yang memicu terjadi blok2 d'kelas XII IA plus. tapi katanya si nyi achie langsung membantah, nama LG tuhh d'buat bukan atas dasar blok2. semua anak2 yang masuk d'LG itu berteman dari smp sampai kelas 3 sma sekarang walaupun kita beda kelas (walau beda tetap 1). 

sudahh teman2x semua pada diam.........kata nyi achi kemungkinan yang akan bubar nak D'jamoes. and yang paling menghebohkan ternayata selama ini nak D'jamoes itu iri sama kita2 (nak LG)......mereka selalu membicarakan hal-hal negatif tentang nak LG. (iihhhhhh summpahhh...............ngeri banget orang kanyak gitu, sering bicarakan teman 1 sekolahnya sendiri).

kalau mau d'pikir apa coba mau d'irikan dari kami, kita juga bukan ornag sempurna, tidak terlalu pintar, tidak perna pamer-memamerkan. paling yang kita pamerkan hanya kekompakkan dan kebersamaan kami semua, walaupun kami berada d'kelas yang berbeda.

tapi it's oklah...ternyata sudah terungkap semua, bahwa mereka selalu memikirkan hal negatif tentang kami. dan itu semua kami terima walaupun mereka telah berbuat begitu ma kami semua. semoga mereka semua sadarlah.....and tak melakukannya lagi. karna sesungguhnya lebih susah mencari teman dari pada mencari musuh.

Intinya, LG akan tetap ada dan selamanya. AMIN 

eehhmmmm......................jari-jemariku dah capek ngetik nich, baru pulag sekolah lagi. kayaknya mau mandi dulu, cuz panaz sangad+mati lampu.

nanti lagi yachh d'lanjutkan....................cciiiiuuuuuuu


Lencana Facebook Radio Youngsters 105 FM Kendari

About Me

Foto saya
Nama saya Ririt Yuliarti Taha. Anak dari bapak Drs. H. Taha Taora dan ibu Dra. Hj. Rosmawati Ibrahim, SST, MS. Saya anak ketiga dari 3 bersaudara. Mempunyai kakak pertama seorang cewek dan kakak kedua seorang cowok. Pendidikan mulai dari TK Wulele Sanggula Kendari, SDN 39 Kendari, SMPN 1 Kendari, SMAN 1 Kendari dan sekarang terdaftar menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo Kendari. Dari kecil sampai sekarang selalu dikendari, hal ini sebabkan karena orang tua yang tak ingin saya jauh dari mereka. Ibu selalu mengajarkan saya untuk mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain, sedangkan bapak membuat saya selalu bergantung kepadanya. Tapi itu semua mengajarkan saya bisa mengambil hal positif dari setiap yang saya jalani. FALSAFAH HIDUP Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta(Khalil Gibran)

Pengikut